Pengelola JS
Catatan Perjalanan Hangzhou (6): Akhirnya, Minum Teh di Longjing
Oleh: Harry Nazarudin
Setelah dari museum, saya menaruh belanjaan di mobil dan memutuskan berjalan kaki karena jalanan masih macet, toh sambil berjalan-jalan menikmati pemandangan di kebun teh. Konon, wilayah Hangzhou ini punya julukan sama dengan Tatar Parahyangan. Kalau Tatar Parahyangan diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum, masyarakat disini punya pendapat bahwa dimana di langit ada Surga, Hangzhou ada persis dibawahnya. Jadi, saya penasaran ingin berjalan kaki membandingkan kedua daerah ini, terutama di wilayah perbukitannya. Mana yang lebih indah, senyum Tuhan atau Surga?
Saya melangkahkan kaki menikmati suasana di sekitar saya. Jalan mulai agak menanjak, dan kontur perbukitan di sekitar saya nampak makin jelas. Suara bising kendaraan tertelan oleh dinding hijau pepohonan yang menjadi batas kebun, sehingga suasana disini cukup sunyi. Memang, pemandangannya sangat mirip dengan kebun teh di Ciwidey. Bedanya adalah disini area-nya lebih kecil, tidak seluas di Ciwidey, mungkin hanya seperlimanya. Batasnya adalah danau di sisi Timur dan tanah datar di sisi Barat. Pohon tehnya ukurannya lebih besar, baik daun maupun ukuran rumpunnya. Mungkin hampir dua kali lebih besar, setinggi pinggang saya, dan lebih rimbun dan lebar daunnya.
Di tepian kebun nampak jajaran sepeda kuno milik pemetik teh, sangat cantik difoto. Nampak sekelompok ibu-ibu sedang sedang memetik teh, menggunakan topi lebar dari bambu. Kalau di Ciwidey kebanyakan menggunakan keranjang untuk menampung teh, disini juga mirip, hanya keranjangnya mulutnya kecil, mirip bubu ikan (perangkap ikan dari bambu). Terdengar suara kletik-kletik pucuk daun dipotong, ditimpali cengkerama ibu-ibu tadi, yang secara otomatis mengecilkan suaranya. Batang-batang bambu nampak menjulang disana-sini, dihubungkan dengan kawat dan kain yang melambai-lambai mengusir burung. Wah, indah nian ya! Tak lama kemudian, seorang pedagang asongan menghampiri saya – menawarkan arbei dan strawberry! Astaga, kok sama ya? Hampir saya bertanya, jual nasi liwet juga nggak? Hehe.
Pucuk teh dicinta ulam tiba, sayapun menemukan sebuah rumah minum teh di tepi kebun. Saya kesana, rupanya menunya mandarin semua. Menunya hanya satu: teh longjing, karena itu jam kagok, belum jam makan malam. Saya memesan teh longjing yang dibandrol RMB 35,-. Ternyata yang datang nggak keren banget: boro-boro cangkir kecil dengan nona cantik yang menyeduhnya, ini cuma ada gelas biasa, dengan sejumput daun kehijauan di dalamnya, ditambah sebuah termos plastik jadul berwarna merah menyala berisi air panas. Tapi, jangan main-main, inilah the real McCoy, yang sungguh sesungguhnya: menyeruput teh longjing di Longjing! Sayapun menuang dan menyeruput isinya pelan-pelan.
Bagaimana tasting note-nya? Sepet, hehehe. Saya tidak mengerti teh jadi diserahkan sama Mas Bambang Laresolo saja ya. Saya malah merasa betapa sejuknya teh panas ini, dinikmati di tengah-tengah kebun teh yang asri. Disini tidak banyak orang, jadi tidak seriuh-rendah danau Xihu. Dan, buat saya, tempat ini jauh lebih cantik dari danaunya. Liuk-liuk perbukitan sekitar Longjing nampak di depan mata, hijau dimana-mana.
Suara gemericik air dari sungai di dekat situ, yang dibendung dengan cantik oleh susunan batu granit besar, menambah suasana Sunda nan syahdu di tempat itu. Tukang strawberry masih menunggu di dekat gerbang masuk. Sayang, tidak ada ayam goreng, ikan asin, atau sambel terasi, hehe. Diam-diam, saya terharu, bersyukur karena bisa segera pulang sebentar lagi. Kalau tidak, pengalaman ini pastilah sangat menyedihkan, karena melihat sesuatu yang begitu mirip dengan kampung halaman saya, tetapi seolah kosong, tanpa senyuman atau sapaan ramah, dengan bahasa asing yang tidak saya mengerti. Jadi, kesimpulannya: senyuman Tuhan lebih indah daripada Surga yang rapi tapi kosong di hati!
Saya membaca buku dan menyeruput teh berkali-kali sampai air di termos habis, betul-betul menikmati duduk tenang dibawah kursi payung ini, sekalian nggak mau rugi bayar RMB 35,- untuk teh ini. Minum teh di Longjing memang die-die-must-try, yang menjadi nikmat bukan cuma karena kualitas tehnya, tapi lebih karena suasana alam sekitarnya. Ketika hari mulai gelap, saya lalu masuk ke mobil.
Saya sempat mengunjungi dua tempat lagi, Liuhe Pagoda di waktu malam, dengan lampunya yang terang dan warna-warni cantik, dan taman `Orioles Singing In The Willow' yang dipenuhi pohon willow di tengah keremangan senja. Setelah makan (biasa aja, standar turis) saya berkendara lagi pulang ke Kunshan, membawa citra baru Cina di hati saya. Bahwa Cina, walaupun punya hanya sedikit alam yang cantik, mampu memoles dan merawatnya dengan baik sekali, seolah-olah sebagai batu permata yang tak ternilai harganya. Sebuah sikap yang patut kita teladani di Indonesia.
[Habis]
Tag: Lain-lain , catatan perjalanan , china , cerita perjalanan , cina



46.90