Pengelola JS
Catatan Perjalanan Hangzhou (5): Ke Longjing, Melihat Museum Teh
Oleh: Harry Nazarudin
Setelah puas foto-foto dan jalan-jalan di pulau, saya pun naik kapal kembali ke tepi danau. Saya mendarat di depan sebuah mall mewah, dengan sebuah kawasan pejalan kaki yang lebar di tepi danau. Sambil nyantai saya berjalan sepanjang sisi danau. Lho? Ada jajaran kursi-kursi plastik yang dipasang menghadap ke danau, diikat dengan tali. Beberapa rombongan orang yang sudah sepuh nampak duduk dan seolah-olah melihat sesuatu ke arah danau. Apa yang dilihat? Setiap kursi disewakan untuk waktu tertentu, saya melihat ada tukang karcisnya. Saya memandang ke arah danau tapi tidak menemukan apa-apa – hanya danau dengan latar belakang kawasan perbukitan Long Jing. Oooh, rupanya ya itu yang mereka lihat!
Sebetulnya, lagi-lagi pemandangan ini menurut saya nggak bagus-bagus amat. Mirip dengan pemandangan di Danau Takengon, Aceh, hanya di Aceh lebih terlihat dramatis karena tajamnya sudut perbukitan. Disini, danau Xihu nampak dilatarbelakangi oleh susunan gunung gemunung, mungkin mirip pemandangan ke arah Bandung dari Dago Atas. Baru begini saja, begitu banyak orang-orang yang duduk memandangi keindahan alam ini berjam-jam. Saya jadi merasa tambah beruntung karena bisa keindahan yang lebih bagus lagi di kampung sendiri, hehehe.
Nah, daerah perbukitan itu adalah Longjing, tujuan saya berikutnya. Longjing di provinsi Zhejiang ini adalah salah satu wilayah penghasil teh yang terbaik dan paling terkenal di Cina. Teh Longjing mencapai status Imperial Tea atau Gong Cha (artinya `teh yang agung') pada masa pemerintahan Kaisar Kangxi dari dinasti Qing. Titik yang dituju – setelah bertanya ke informasi turis – adalah desa Meijiawu. Disana, konon ada banyak `rumah-rumah teh', dimana kita bisa duduk dan melakukan satu hal yang sangat direkomendasikan di Hangzhou: minum teh sore-sore. Asyik! Tapi, dalam brosur saya lihat satu tujuan yang menarik juga: National Chinese Tea Museum, yang terletak di Jl. Longjing. Akhirnya, saya memutuskan ke museum dulu, selain masih kesiangan juga kalau minum teh sekarang.
Saya juga heran dengan adanya Longjing yang berdekatan dengan West Lake ini. Karena, secara saya dari Jawa Barat yang banyak perkebunan teh-nya, saya mencari mana gunungya – kebun teh di Jabar kan selalu lokasinya di wilayah pegunungan, berbukit dan tinggi. Nah, dari kemarin saya melihat daerah Hangzhou ini datar-datar saja. Rupanya, daerah yang berbukit ada di wilayah Barat dari danau. Sebenarnya bukit ini nggak tinggi-tinggi amat, mungkin hanya setinggi bukit-bukit yang kita lihat kalau naik tol Padaleunyi menuju arah Sumedang. Saya lupa, bahwa di Indonesia iklimnya tropis, jadi teh hanya bisa tumbuh di ketinggian tertentu supaya hawanya sejuk. Sementara Hangzhou tergolong subtropis, jadi di musim dingin, asal tanahnya berbukit saja, yang berarti ada aliran angin dan sinar matahari menyamping, pohon teh bisa tumbuh.
Sayapun nyetir mobil ke arah Barat, dan mulai terasa `suasana pegunungan'-nya. Jalan berubah menjadi kecil dan meliuk-liuk, padahal bukitnya tidak terlalu tinggi. Otomatis jalanan menjadi macet, karena banyak bus yang memaksa naik walaupun pas-pasan (persis jalan kecil menuju Sierra Cafe di Dago Atas Bandung, hanya yang ini nggak ada bolongnya, mulus semua, hehe). Di salah satu sudut, ketika saya mulai stress lagi karena macet, saya memutuskan untuk parkir saja dan jalan kaki, karena belum jelas museumnya dimana. Ternyata saya parkir di mulut jalan menuju museum. Dikanan-kiri nampak hamparan perkebunan teh, sebuah pemandangan yang mengingatkan saya pada kampung halaman...
Museum teh ini terletak di tengah-tengah kebun teh beneran. Ciri khas Cina, sangat memperhatikan keindahan taman, sehingga taman di sekitar museum sangat rapi dan bagus. Di dalam taman ada patung seorang kakek berpakaian khas Cina, memegang pot dan cangkir kecil sambil tersenyum, wajahnya mirip wajah Konfusius. "The Joy of Tea".... kayanya, berhubung tulisannya mandarin semua, hehe.
Gedung utama museum teh sayangnya sedang renovasi, jadi saya hanya bisa melihat koleksi teh museum yang masih buka. Disini dijelaskan bahwa teh di Cina ada 6 jenis: teh hijau, teh hitam, teh oolong, teh kuning, teh putih, dan teh gelap (dark tea). Wah kalau cuma 6 kalah dong sama teh produksi Indonesia di Jabar, dimana teh-nya ada ratusan: Teh Neneng, Teh Omah, Teh Santi, hehehe. Dari semua ini, saya hanya mencatat definisi teh putih, yang deifinisinya simpang siur. Teh ini ternyata hanya diproduksi di Fujian, yang dibuat dari putik dan daun yang berbulu, akan berwarna putih sesudah dikeringkan. Itulah sebabnya teh ini disebut teh putih, dengan note: `the infusion is tender, light yellow, and has a fresh, mellow taste'. Ah, kalau tender dan mellow mah teh di Jabar juga banyak.... teh MALABAR maksudnya, hihihi.
Museum ini memajang teh-nya dengan jendela kecil, masing-masing diberi nama dan catatan rasa atau tasting note. Unik juga, melihat puluhan jenis teh yang berbeda-beda berkumpul disini. Di bagian ujung ada jenis teh dengan bentuk yang lebih eksotik. Contohnya, ada teh Pu Erh yang disebut Gu Pu Erh, berbentuk bundar seperti piring bewarna hitam, diameternya segede ban Kijang Innova! Lalu ada yang disebut brick Pu Erh, bentuknya seperti bata dengan ukuran 20 cm x 50 cm x 5 cm. Teh Pu Erh ini kalau mau diminum diambil sejumput dengan tangan, lalu diseduh. Ada teh jingua suite yang bentuknya seperti labu halloween, dan teh Qianliang dan Bailiang yang dibungkus dengan bambu seperti bungkus tahu sumedang.
Akhirnya, saya nongkrong di souvenir shop. Nah, beli teh di Cina sama saja dengan beli air tawar di Pasar Ikan Muara Karang. Karena suplai sedikit sementara permintaan banyak, harganya mahal! Yang paling disukai disini adalah teh longjing yang baru jadi, dimasukkan dalam kantong biasa, dengan harga RMB 600,- per 25 gram. Buset, mahal juga, pikir saya. Akhirnya saya memilih membeli yang sudah dibungkus bagus, dengan empat macam teh, termasuk oleh-oleh, total 100 gram seharga RMB 600,-. Disini ada peragaan minum teh a la Cina, lengkap dengan cangkir-cangkir kecil dan seorang noni cantik yang menyeduh tehnya. Nampak rombongan asal Taiwan semangat memborong teh yang ada.
Tag: Lain-lain , catatan perjalanan , china , cina , Hangzhou , shanghai

46.90