Pengelola JS
Catatan Perjalanan Hangzhou (4): Jadi Raja Sehari di Xihu
Oleh: Harry Nazarudin
Di tengah Danau Xihu ada tiga pulau kecil, yang terbesar adalah `Three Pools Mirroring The Moon', tempat tujuan saya sekarang. Pulau ini dibangun pada masa Kaisar Wanli di Dinasti Ming, dengan membendung air danau dan mengeringkan tengahnya. Pulau ini berisi sebuah danau yang ada jembatan melintang dari Utara-Selatan dan Barat-Timur, membentuk segi empat berpetak empat, sebagai simbol dari satu karakter Cina yang artinya `An island within a lake, and a lake within an island'. Begitu sampai, pemandangan masih sama dengan pohon willow dan pohon ceri, namun dengan adanya danau dan jembatan, serta bangunan mirip kelenteng yang ternyata adalah restoran, suasana nampak cantik.
Setiap pohon dan bangunan di tepian danau terpantul dengan sempurna karena danau buatannya kecil sehingga riaknya sedikit. Mengambil foto efek bayangannya, sungguh cantik, sayang cuacanya mendung. Kalau pemandangan begini, saya celingukan mencari orang untuk mengambil foto saya. Masak fotonya nggak ada sayanya? Gini nih sialnya pergi sendirian. Lalu, saya melihat ada kios-kios yang menawarkan foto dengan pakaian tradisional Cina. Harganya RBM 20,- sekali foto. Saya liat, tukang fotonya pakai Canon 350D. Hao! Wo ze tao! Ini caranya!
Sayapun menggunakan bahasa tarzan saya yang fasih untuk menjelaskan, tolong fotoin saya pakai baju tradisional tapi pakai kamera saya saja karena lensanya lebih bagus. Untuk yang bersangkutan mengerti. Sayapun didandani bak kaisar Pu Yi: topi beludru merah, jubah kuning menyala dengan sulaman naga dan burung hong di dada, lengkap dengan sebuah kipas. Fungsi kipas kan `for cooling – to make me look cool', hehe. Kemudian, saya diminta copot kacamata lagi! Jadilah mata saya tambah sipit tanpa kacamata, membuat saya persis keturunan Kaisar Hangzhou!
Fotografer pun beraksi mengarahkan gaya dan memilih tempat foto. Kirain di satu tempat saja, ternyata dia dengan cueknya membawa saya ke seluruh penjuru pulau, tepi danau, bawah pohon, menerabas antrian orang-orang yang akan naik kapal ke pulau lain, untuk ambil foto! Dan rupanya, hanya saya satu-satunya turis edan yang bayar RMB 20,- untuk dipermalukan begini. Alhasil, di setiap sudut jembatan dan sudut bangunan, saya berpose, lalu banyak turis domestik lain ikut-ikutan motret saya, dan minta foto sama saya, bak selebriti, hehehe. Mereka mengomentari saya, mengira saya bisa ngomong mandarin, yang saya jawab dengan cengiran tanpa dosa karena nggak ngerti, hehe.
Tiba-tiba, sedang asyik berpose, sekelompok turis bule nampak menghampiri saya dan minta berfoto bersama saya satu persatu. Hayyah! Dia pikir saya betulan orang lokal asli keturunan kaisar Hangzhou nih! Dia kaget ketika saya bilang `One dollar please' sesudah foto, tidak menyangka saya bisa bahasa Inggris. Sementara turis domestik lain menonton saya sambil tertawa-tawa. Malu juga, tapi pas ngeliat fotonya, it's worth every penny! Kapan lagi saya foto dengan kipas terkembang dan wajah tanpa senyum di depan kelenteng, persis Chairman Mao! Hehehe, hen hao! Sang fotografer bisa sedikit bahasa Inggris, dan bertanya – pertama-tama komentar standar: "You look like chinese..!!", kemudian dia tanya saya darimana. Saya jawab Indonesia, yang disambung dengan komentarnya "Ing Nie? Wo ze tao... Bali! Bali!" katanya. Sip deh, sayapun membayar dan melanjutkan melihat-lihat pulau ini.
Di sisi barat danau, ada tiga buah tugu mirip nisan kuil Shinto di Jepang, yang mencuat dari atas air. Inilah yang disebut `Three Pools', mungkin maksudnya `Polls' atau tiang. Banyak perahu berseliweran disini. Rupanya, tempat ini punya nilai sejarah tinggi. Tiga tugu ini dibangun oleh Kaisar Su Shi dari Dinasti Song Utara (960 – 1120), kira-kira seribu tahun yang lalu. Setiap terang bulan, orang-orang akan menggunakan perahu dan meletakkan lilin di dalam tugu ini. Konon, cahaya bulan, cahaya lilin, dan pantulan semuanya di permukaan air danau, akan bersanding selaras keindahannya, menjadikannya pemandangan yang paling terkenal dari danau ini. Pantas saja, beberapa perahu nampak berseliweran di sekitar tiga tugu ini. Sebuah kebiasaan yang sudah berusia seribu tahun lebih.
[Bersambung]
Tag: Lain-lain , catatan perjalanan , china , cina , Hangzhou , shanghai

46.90