Iksa Menajang
BatikSutra and Friends (oleh Cindy Ceret)
Ketika pertama kali "embrio" klompen batik jalan bareng, bukan batik yang jadi motivasi perjalanan – tapi janji-janji Sienny atas makanan cihuy yang bakal ditemui sepanjang jalan. Adududuh … da si eneng UCA (Urang Ciamis Asli), masa sih kita mau meragukan kosa-kulinernya di Priangan Timur?
Perjalanan Garut-Tasik itu yang memulai semuanya. Beberapa helai batik yang kami bawa pulang sebagai souvenir perjalanan memang cantik, tapi menjadi jauh lebih bersinar pesonanya ketika dibentangkan untuk dinikmati sendiri. Di situ cinta kami pada kain-kain indah ini mulai bersemi dan tumbuh subur.
Setelah mata dipikat, selanjutnya hati dijerat. Mula-mula hanya tertarik dengan corak dan warna yang begitu cantik, lalu mulai mencari tahu dan belajar untuk lebih mengenal sang pujaan hati. Mulai dari bagaimana membedakan batik cap, tulis dan print hingga tidak lagi tertipu print2an bertopeng batik – hingga sejarah, jenis motif dan ciri khas berbagai daerah.
Dari situ kami sudah sampai ke Pulau Madura, ngubek-ngubek Cirebon Pekalongan, menjelajah Semarang sampai Lasem – semua atas nama Batik. Ada begitu banyak cerita, saya pilihkan yang paling berkesan untuk anda semua.
THE PEACOCK BATTLE
Perjalanan ini sebenarnya dalam rangka mengantar Ayulik Trihendro (penggila batik kaliber kakap) memesan batik di "Batik Art Oey Soe Tjoen", Kedungwuni. Di dunia perbatikan, hasil karya Oey Soe Tjoen (OST) diakui sebagai The Masterpiece – batik tulis super halus dengan warna-warna lembut khas pesisiran. Untuk menghasilkan selembar kain batik cantik yang tajam sampai ke detail terkecil, OST butuh 18 bulan. "Itu sama seperti 2 kali hamil dan melahirkan", kata Ayulik yang deg-degan tiada henti sepanjang jalan.
Setelah lupa makan karena histeria dan euphoria batik, Ayu (dan beberapa lainnya
) akhirnya mencatatkan pesanannya. Saking lamanya kami "kemping" disana, ada dompet yang tertinggal dan kami membuat janji untuk mengambilnya esok hari sebelum pulang.
Esok harinya, Ayu (yang belum rela berpisah dengan batik-batik cantik) berinisiatif menemani Sianna mengambil dompet sementara yang lain menunggu di mobil. Uda Nota (Yep, Notariza Taher) ikut turun sebab mau menyampaikan pesanan temannya. Sambil menanti, Nota iseng-iseng berhadiah bertanya, "Memang tidak ada yang cancel, Bu?"
Ndilalah kok memang ada 3 lembar kain yang baru saja cancel pagi itu. Semalaman kami kemping disana, tidak ada satupun yang terpikir untuk bertanya apa ada yang dibatalkan. Semua berasumsi semua kain sudah ada yang punya. (OST saat ini hanya membuat kain berdasarkan pesanan alias made to order)
3 kain untuk 3 orang. Semestinya tidak ada masalah ya, kan tinggal seorang satu. Tapi kalau ada wanita dan cinta, biasanya suka ada bencana.
Ayu dan Sianna sama sama naksir selembar kain batik buketan dengan merak cantik berwarna biru. Masing-masing bersikukuh dengan pilihannya, tidak mempan dibujuk rayu untuk pindah ke lain kain. Adu mulut mah udah lewat, ini sudah mulai tarik-tarikan kain. "Waduh, ada pertumpahan daraaaah neeeehh" lapor Nota via BBM
*Setting pindah keluar rumah*
Dua orang wanita tampak gelisah duduk dalam mobil Landcruiser dengan mesin menyala. "Heran, ngambil dompet kok lama amat." omel mereka.
BRAKK, pintu terbuka dan tampak sosok Ayu berlari panik keluar rumah. Ia bergegas menuju ATM terdekat, hanya untuk menjerit melihat antrian panjang di salah satu ATM. ATM satunya masih dalam proses pengisian uang sehingga belum bisa digunakan. Dag dig dug dag dig dug. Ayu sudah sampai di tingkat kepanikan tingkat tinggi. Apalagi tadi Sianna meneriakkan "m-banking" saat ia berlari keluar. Tidaaaaaaaakkkkhhhhh *bayang-bayang merak biru berpendar2 di kepala*
Ayu pun langsung berlari menghambur ke petugas ATM yang hampir menyelesaikan tugasnya. "PAAAAKK … SAYAA BUTUH UAAAAAANG. SAYA BUTUH UAAAANG!!" dengan nada histeris penuh keputusasaan. Berkesimpulan bahwa ada sesuatu yang super-urgent, petugas pun membantu Ayu yang sudah gemetar dan tidak mampu berpikir untuk memasukkan kartu ATM dan mengambil uang.
BRAK …. Pintu ATM terbuka. Tampak Ayu sekali lagi berlari panik sambil memeluk gundukan uang. Tidak diperdulikannya tatapan orang, tidak lagi dirasanya kemana kaki melangkah – segunduk besar pasir pun diterjang tanpa ampun. Dua wanita di mobil hanya bisa ternganga melihat pemandangan ajaib ini.
*setting pindah ke dalam rumah*
Bingung kemana Ayu pergi, Sianna memeluk batik merak biru sambil menimang-nimang HP. Dengan beberapa pijitan tuts dan dalam hitungan detik, proses m-banking akan selesai dan batik ini SAH menjadi miliknya. Namun sesuatu dalam hatinya mencegah ia melakukan hal itu.
Sampai akhirnya ia berbalik badan dan melihat Ayu sudah kembali. Bukan Ayu yang tadi beradu mulut dan tarik-tarikan kain yang ia lihat. Yang dilihat Sianna adalah muka Ayu yang pucat, kakinya yang gemetar berlumur pasir, dan tangannya yang memeluk gundukan uang dengan mata tak berani berharap.
Hatinya yang sedari tadi berkeras langsung lumer. Batik ini memang sungguh cantik, tapi tidak cukup cantik untuk meniadakan sebuah persahabatan. Tangan yang rela mengulurkan batik itu bukan tanda ia menyerah kalah, tapi tanda kemenangan persahabatan di atas segalanya.
Kedungwuni, Pekalongan, April 2010
Cindy Ceret
atas nama
Klompen BatikSutra and Friends
Cindy Christian, Sienny Lauw, Lidia Tanod, Evia N Koos, Ayulik Trihendro, Arie & Erna Parikesit, Gatot Purwoko, Widya Susanti, Grace Khoesuma, Sianna Kaur, Euis Reni Andriani, Dani Sumendap, Sinta Lucia, Natalia Link, Julian, Notariza Taher, Aisa, Linda Rakabina, Ivonne Santoso "Nonik".
Tag: Lain-lain , Batik


166.90
14.90